Menurut Sutataminingsih (2009)
yang setuju dengan pendapat Fitts (1971) menyatakan bahwa aspek-aspek konsep diri adalah sebagai berikut:
1. Aspek Pertahanan Diri (Self Defensiveness)
Pada saat seorang individu
menggambarkan atau menampilkan dirinya, terkadang muncul keadaan yang tidak
sesuai dengan diri yang sebenarnya. Keadaan ini terjadi dikarenakan individu
memiliki sikap bertahan dan kurang terbuka dalam menyatakan dirinya yang
sebenarnya.
Hal ini dapat terjadi,
dikarenakan individu tidak ingin mengakui hal-hal yang tidak baik di dalam
dirinya. Aspek pertahanan diri ini, membuat seorang individu mampu untuk
"menyimpan" keburukan dari dirinya dan tampil dengan baik sesuai yang
diharapkan oleh lingkungan dari dirinya.
2. Aspek Penghargaan Diri (Self Esteem)
Berdasarkan label-label dan
simbol-simbol yang ada dan diberikan pada dirinya, seorang individu akan
membentuk penghargaan sendiri terhadap dirinya. Semakin baik label atau simbol
yang ada pada dirinya, maka akan semakin baik pula penghargaan yang diberikannya
pada dirinya sendiri.
Demikian pula bila individu
memiliki label-label atau simbol-simbol yang kurang baik pada dirinya, maka
penilaian tersebut akan diinternalisasikannya dan membentuk penghargaan diri
yang kurang baik pada dirinya sendiri.
3. Aspek Integrasi Diri (Self Integration)
Aspek integrasi ini menunjukkan
pada derajat integrasi antara bagian-bagian dari diri (self). Semakin terintegrasi bagian-bagian diri dari seorang
individu, maka akan semakin baik pula ia akan menjalankan fungsinya.
4. Aspek Kepercayaan Diri (Self Confidence)
Kepercayaan diri seorang
individu berasal dari tingkat kepuasannya pada dirinya sendiri. Semakin baik
penilaian seorang individu terhadap dirinya, maka semakin percaya ia akan
kemampuan dirinya. Dengan kepercayaan diri yang baik, maka seorang individu
akan semakin percaya diri di dalam menghadapi lingkungannya.
Sedangkan Hurlock (2001)
mengemukakan bahwa konsep diri terdiri dari dua aspek, yaitu:
1. Fisik
Aspek ini meliputi sejumlah
konsep yang dimiliki individu mengenai penampilan, kesesuaian dengan jenis
kelamin, arti penting tubuh, dan perasaan gengsi di hadapan orang lain yang
disebabkan oleh keadaan fisiknya. Hal penting yang berkaitan dengan keadaan
fisik adalah daya tarik dan penampilan tubuh dihadapan orang lain.
Individu dengan penampilan yang
menarik cenderung mendapatkan sikap sosial yang menyenangkan dan penerimaan
sosial dari lingkungan sekitar yang akan menimbulkan konsep yang positif bagi
individu.
2. Psikologis
Aspek ini meliputi penilaian
individu terhadap keadaan psikis dirinya, seperti rasa percaya diri, harga
diri, serta kemampuan dan ketidakmampuannya. Penilaian individu terhadap
keadaan psikis dirinya, seperti perasaan mengenai kemampuan atau
ketidakmampuannya akan berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan harga
dirinya.
Individu yang merasa mampu akan
mengalami peningkatan rasa percaya diri dan harga diri, sedangkan individu
dengan perasaan tidak mampu akan merasa rendah diri sehingga cenderung terjadi
penurunan harga diri.
Ulfa Maria (2007) mengemukakan
bahwa aspek konsep diri mencakup beberapa aspek, yaitu:
1. Diri
Fisik
Aspek ini menggambarkan bagaimana individu memandang kondisi kesehatannya,
badan dan penampilan fisiknya.
2. Diri
Psikis
Aspek yang meliputi pikiran, perasaan, dan sikap-sikap individu terhadap
dirinya sendiri.
3. Diri Sosial
Aspek ini mencerminkan
sejauhmana perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosial dengan
orang lain.
4. Diri
Moral Etik
Aspek yang meliputi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang memberikan arti
dan arah bagi kehidupan individu.
5. Diri
Keluarga
Aspek ini mencerminkan perasaan berarti dan berharga dalam kapasitasnya
sebagai anggota keluarga.
Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa pendapat
mereka saling melengkapi satu sama lain, dan dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa terdapat lima aspek konsep diri, yaitu diri fisik, diri psikis, diri
sosial, diri moral etik dan diri keluarga.
0 comments:
Post a Comment